Pengertian Wirausaha
Wirausaha terdiri dari dua kata, yaitu wira dan usaha. Kata wira berarti manusia unggul, teladan, dan berbudi luhur. Sedangkan kata usaha sendiri artiya bekerja. Secara istilah, kata wirausaha dapat berarti seseorang yang memiliki pribadi hebat, produktif, kreatif, melaksanakan perencanaan yang berasal dari ide sendiri kemudian mengembangkannya dengan menggunakan tenaga orang lain dan selalu berpegang pada nilai-nilai displin dan kejujuran.
Menurut Robert D. Hisrich, wirausaha adalah proses menciptakan sesuatu yang bernilai dengan mengabdikan waktu dan usaha, melalui kebersamaan finansial, psikologikal dan risiko sosial untuk menerima dan menghasilkan penghargaan dalam bentuk keuangan dan kepuasan personal.
Sifat Enterpreneur
Dapat dikatakan bahwa seorang enterpreneur adalah:
1. orang yang menanggung risiko
2. orang yang mengurus perusahaan
3. orang yang memobilisasi dan mengalokasi modal
4. orang yang menciptakan barang baru
Ciri-ciri dan Watak Wirausahawan
1. Percaya diri
a. kepercayaan
b. ketergantungan
c. kepribadian mantap
d. optimisme
2. Berorientasikan tugas dan hasil
a. kebutuhan akan prestasi
b. berorientasikan laba
c. tekun dan tabah
d. bekerja kers
e. memiliki motivasi diri dan energik
f. penuh inisiatif
3. Pengambil resiko
a. berani mengambil resiko
b. suka pada tantangan
4. Kepemimpinan
a. mampu memimpin
b. dapat bergaul dengan orang lain
c. menanggapi saran dan kritik
5. Keorisinilan
a. inovatif
b. kreatif
c. fleksibel
d. berwawasan luas
e. serba bisa
6. Berorientasi ke masa depan
a. berpandangan ke depan
b. perseptif
Thursday, November 08, 2007
Ragam Penelitian
Penelitian adalah semua usaha yang sistematik (memiliki tujuan) untuk menemukan kebenaran sebagai jawaban terhadap suatu permasalahan.
Hakikat dari penelitian adalah untuk membuktikan suatu teori. Teori sendiri berarti pernyatan atau proposisi yang dibangun dengan proposisi-proposisi yang lain sehingga terlihat hubungannya.
Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh penelitian terbagi atas:
1. Basic Research (Penelitian Dasar): mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan; penelitian ini dilakukan untuk memahami masalah secara mendalam.
2. Applied Reseach (Penelitian Terapan): mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien; penelitian ini dilakukan untuk memecahkan suatu masalah.
Fungsi dari penelitian adalah:
1. Menjelaskan suatu fenomena
2. Memprediksi sesuatu yang belum/akan terjadi
3. memecahkan masalah
Ciri-ciri dari suatu penelitian adalah:
1. Terencana: terlihat dari susunan proposal yang merupakan langkah awal dari penelitian.
2. Sistematis: berurutan dalam penyampaiannya.
3. Logis: bisa diterima dengan nalar dan bisa dibuktikan secara empiris dan logika.
4. Etis : tidak melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Peranan penting dari suatu penelitian adalah:
1. Pemecahan Masalah: penelitian berperan untuk meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan saling berkaitan.
2. Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang ilmu yang diajukan; meningkatkan ilmu untuk menjelaskan/menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut.
3. Mendapatkan pengetahuan/ilmu yang baru dari hasil penelitian tersebut.
Penelitian dikatakan baik apabila penelitian tersebut memiliki ciri-ciri tersebut dibawah ini:
1. Purposiveness: Penelitian memiliki tujuan yang jelas;
2. Exactitude: Penelitian dilakukan dengan hati-hati, cermat, dan teliti;
3. Testability: Penelitian dapat diujikan atau dikaji ulang;
4. Replicability: Penelitian dapat diulang oleh peneliti lain;
5. Precision and Confidence: Penelitian memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel;
6. Objectivity: Penelitian bersifat objektif;
7. Generalization: Penelitian berlaku secara umum;
8. Parismony: Penelitian hemat (tidak berlebihan);
9. Consistency: Data atau ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi kata atau ungkapan yang memiliki arti sama;
10. Coherency: Terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian dengan bagian lainnya dalam penelitian tersebut.
Kebenaran dari suatu penelitian didasarkan atas beberapa teori berikut:
1. Teori Korespondensi: Penelitian haris berkorespondensi dengan kenyataan
2. Teori Koherensi: Sistem-sistem ide yang koheren (sesuai)
3. Teori Pragmatis: Pemecahan yang memuaskan
4. Teori Semantik: Pernyataan-pernyataan tentang kebenaran berada dalam metabahasa dan pada pernyataan-pernyataan dalam bahasa dasar
5. Teori Performatif: Pernyataan kebenaran merupakan persetujuan yang diberikan terhadap pernyataan tertentu. Berikut adalah tingkat kebenaran:
a. Kebenaran Religi melalui keimanan
b. Kebenaran Filsafati melalui kontemplasi
c. Kebenaran Ilmiah melalui kegiatan sistematik, logis, dan etis (penelitian)
d. Kebenaran Indrawi melalui penginderaan
Berikut metupakan prosedur atau langkah-langkah dalam membuat suatu penelitian :
6. Garis Besar
a. Pembuatan rancangan (penyusunan proposal penelitian);
b. Pelaksanaan Penelitian;
c. Pembuatan Laporan Penelitian.
7. Arus kegiatan penelitian
a. Memilih masalah; memerlukan kepekaan peneliti dalam mencari, menemukan, dan mengangkat suatu permasalahan.
b. Studi pendahuluan; melakukan studi eksploratoris untuk mencari informasi selengkap-lengkapnya mengenai masalah yang akan diteliti.
c. Merumuskan masalah; peneliti merumuskan secara jelas, dari mana harus memulai, kemana harus pergi, bagaimana penelitian tersebut dikembangkan, dan sebagainya
d. Merumuskan anggapan dasar; peneliti merumuskan hipotesis penelitian sebagai tempat berpijak ketika penelitian tersebut berlangsung.
e. Memilih pendekatan; peneliti memilih metode atau cara penelitian yang seperti apa yang akan digunakan. Peneliti juga menentukan apa variabelnya, apa objek penelitiannya, apa subjeknya, dari mana sumber data penelitiannya, dan lain sebagainya.
f. Menentukan variabel dan sumber data; peneliti menentukan apa yang akan diteliti dan dari mana data akan diperoleh.
g. Menentukan dan menyusun instrumen; peneliti menentukan apa jenis datanya, dari mana data akan diperoleh, dan instrumen apa yang digunakan dalam memperoleh data penelitian.
h. Mengumpulkan data; setelah peneliti menentukan dari mana data, maka peneliti memikirkan pula dengan cara apa data dikumpulkan.
i. Analisis data; dibutuhkan ketekunan dan pengertian peneliti terhadap data yang telah diperoleh. Seperti apakah jenis datanya dan peneliti pun menentukan bagaimana teknik analisisnya.
j. Menarik kesimpulan; peneliti harus jujur terhadap hasil penelitiannya dan menyimpulkan berdasarkan data-data yang telah ia peroleh, apakah hipotesis yang ia tarik sebelumnya terbukti.
k. Menyusun laporan; Peneliti dengan kemampuan berbahasanya yang baik dan benar, menyusun laporan hasil penelitiannya agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Berdasarkan Keilmiahannya Penelitian terbagi atas:
1. Penelitian Ilmiah: Penelitian yang menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Terdapat dua kriteria dalam menentukan kualitas keilmiahan suatu penelitian, yaitu:
a. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:
b. Kemampuan untuk meramalkan: sejauh mana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;
Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah :
a) Purposiveness: fokus tujuan yang jelas;
b) Rigor: teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
c) Testibility: prosedur pengujian hipotesis jelas
d) Replicability: Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
e) Objectivity: Berdasarkan fakta dari data aktual (tidak subjektif dan emosional);
f) Generalizability: Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
g) Precision: Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
h) Parsimony: Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
2. Penelitian non ilmiah: Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah.
Berikut adalah pembagian penelitian berdasarkan kriteria-kriteria tertentu:
A. Penelitian Ditinjau dari Tujuan
Ditinjau dari tujuan dilakukannya penelitian, maka penelitian dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Penelitian Eksploratif
Penelitian Eksploratif bertujuan untuk menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.
2. Penelitian Pengembangan (Research and Development)
Penelitian pengembangan (Research and Development) bertujuan untuk mengadakan percobaan dan penyempurnaan.
3. Penelitian Verifikatif
Penelitian verifikatif bertujuan untuk mengecek kebenaran dari hasil penelitian lain yang telah dilakukan (telah ada sebelumnya)
4. Penelitian Kebijakan
Penelitian kebijakan bertujuan untuk melihat sejauh mana keefektifan strategi yang akan diterapkan pemerintah pada masyarakat secara luas. Penelitian ini menyangkut tindakan dari pemerintah dan diberlakukan secara luas pada masyarakat.
B. Penelitian Ditinjau dari Pendekatan
Berdasarkan pendekatannya, penelitian dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Penelitian Longitudinal (Pendekatan Bujur)
Penelitian dilakukan pada waktu, subjek, dan kondisi yang sama.
2. Pendekatan Cross Sectional (Pendekatan Silang)
Peneliatian pendekatan silang tidak menggunakan subjek yang sama.
C. Penelitian Ditinjau dari Bidang Ilmu
Berkenaan dengan jenis spesialisasi dan interest, maka bidang ilmu yang diteliti banyak sekali ragamnya menurut siapa yang yang mengadakan penelitian. Ragam penelitian ditinjau dari bidang ilmunya, seperti penelitian terhadap pendidikan (lebih sempit lagi, teknologi pendidikan, pendidikan keguruan, kurikulum, manajemen pendidikan, dll), penelitian dalam bidang kedokteran (kedokteran THT, internist, kardiolog, dll), fisika, dan sebagainya.
Secara umum penelitian in dibedakan menjadi:
a. Penelitian Sosial
Secara khusus meneliti bidang sosial (pendidikan, ekonomi, hukum, dsb).
b. Penelitian Eksakta:
Secara khusus meneliti bidang eksakta atau ilmu pasti (kimia, fisika, keteknikan, dsb)
D. Penelitian Ditinjau dari Tempatnya
Berdasarkan tempat diadakannya penelitian, maka penelitian sendiri dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Penelitian Laboratorium
Penelitian laboratorium (laboratory research) dilaksanakan di tempat tertentu (laboratorium), biasanya bersifat eksperimen atau percobaan. Laboratorium dapat berfungsi sebagai pengisolasi variabel yang akan dieksperimen dengan lingkungan sekitar yang berpotensi mempengaruhi/mencemari variabel yang akan diteliti.
2. Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan (library research) dilaksanakan dengan menggunajan literatur (kepustakaan) dari penelitian-penelitian yang sudah diksanakan sebelumnya. Selain itu penelitian juga dapat berupa analisis isi buku (content analysys) yang akan menghasilkan suatu kesimpulan mengenai gaya bahasa buku, kecenderungan isi buku, tata tulis, layout, ilustrasi, dsb.
3. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan/kancah (field research) merupakan salah satu jenis penelitian yang paling banyak dilakukan yang berlokasi langsung di lapangan. Sesuai dengan bidangnya, maka kancah penelitian akan berbeda-beda tempatnya sesuai dengan kebutuhan.
E. Penelitian Ditinjau dari Hadirnya Variabel
Variabel adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap dalam suatu kegiatan penelitian (points to be noticed), yang menunjukkan variasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Variabel juga disebut dengan istilah ubahan, karena dapat berubah-ubah tergantung pada penelitian yang dilakukan, singkatnya bervariasi.
Berdasarkan saat terjadinya, maka penelitian yang ditinjau dari hadirnya variabel dapat dibagi menjadi:
1. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif menggambarkan atau menjelaskan variabel masa lalu dan sekarang (present continuesly)
2. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang atau belum terjadi dan sengaja diadakan dalam bentuk treatment.
3. Penetian Tindakan
F. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
1. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif hasil penelitiannya berupa deskripsi, kata, skema, dan gambar.
2. Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif hasil penelitiannya berupa angka atau data kualitatis
No. Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
1. Kejelasan Unsur :
Tujuan, pendekatan, subjek, sampel, dan sumber data sudah mantap, rinci sejak awal
Subjek sampel, sumber data tidak mantap dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan (emergent)
2. Langkah penelitian :
Segala sesuatu direncanakan sampai matang ketika persiapan disusun
Baru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai
3 Sampel :
Dapat menggunakan sampel, dan hasil penelitiannya diberlakukan untuk populasi
Tidak dapat menggunakan pendekatan populasi dan sampel. Dengan kata lain, dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting. Hasil penelitiannya hanya berlaku bagi setting yang bersangkutan
4. Hipotesis (Jika memang perlu)
a. Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;
b. Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan--- a priori
Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung--- tentatif
Hasil penelitian terbuka
5. Disain :
Dalam disain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan
Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya
6. Pengumpulan data :
Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan
Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.
7. Analisis data :
Dilakukan sesudah semua data terkumpul.
Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data
G. Penelitian Berdasarkan Metode
Metode penelitian adalah suatu cara yang dipakai dalam penelitian atau dalam kata lain prosedur yang digunakan untuk meneliti sesuatu.
1. Penelitian Survey
Penelitian survey digunakan untuk mengambil generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam
Fungsi dan ciri penelitian survey:
a. Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada,
b. Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
c. Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
d. Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
e. Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
f. Penelitian ini dapat berupa:
i. Penelitian Eksploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas.
ii. Penelitian Deskriptif: Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti mengembangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
iii. Penelitian Evaluasi: mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup evaluasi formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), dan evaluasi sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
iv. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan): menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
v. Penelitian Prediksi: Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
vi. Penelitian Pengembangan Sosial: Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala
2. Grounded Research: Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan. Grounded research bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori, dan pengumpulan serta analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri dari penelitian ini adalah data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis sehingga teori akan menerangkan data setelah data diurai.
3. Studi Kasus (Case Study): Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian/segmen, atau keseluruhan siklus /aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
4. Penelitian Eksperimen (Experimental Research): Penelitian eksperimen dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu, untuk pengujian hipotesis tertentu. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab-akibat dari variabel penelitian. Konsep dan variabel dalam penelitian jenis ini harus jelas, pengukurannya pun harus cermat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.
5. Expost Facto; dilakukan untuk meneliti peristiwa yang terjadi dan mencari tahu penyebabnya.
6. Policy Research; dilakukan untuk membuat keputusan terhadap masalah sosial yang mendasar.
7. Action Research; Penelitian untuk mengembangkan metode kerja yang efisien agar produksi meningkat
8. Penelitian Sejarah (Historis); digunakan untuk merekonstruksi kejadian masa lalu secara sistematis dan objektif.
Hakikat dari penelitian adalah untuk membuktikan suatu teori. Teori sendiri berarti pernyatan atau proposisi yang dibangun dengan proposisi-proposisi yang lain sehingga terlihat hubungannya.
Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh penelitian terbagi atas:
1. Basic Research (Penelitian Dasar): mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan; penelitian ini dilakukan untuk memahami masalah secara mendalam.
2. Applied Reseach (Penelitian Terapan): mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien; penelitian ini dilakukan untuk memecahkan suatu masalah.
Fungsi dari penelitian adalah:
1. Menjelaskan suatu fenomena
2. Memprediksi sesuatu yang belum/akan terjadi
3. memecahkan masalah
Ciri-ciri dari suatu penelitian adalah:
1. Terencana: terlihat dari susunan proposal yang merupakan langkah awal dari penelitian.
2. Sistematis: berurutan dalam penyampaiannya.
3. Logis: bisa diterima dengan nalar dan bisa dibuktikan secara empiris dan logika.
4. Etis : tidak melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Peranan penting dari suatu penelitian adalah:
1. Pemecahan Masalah: penelitian berperan untuk meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan saling berkaitan.
2. Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang ilmu yang diajukan; meningkatkan ilmu untuk menjelaskan/menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut.
3. Mendapatkan pengetahuan/ilmu yang baru dari hasil penelitian tersebut.
Penelitian dikatakan baik apabila penelitian tersebut memiliki ciri-ciri tersebut dibawah ini:
1. Purposiveness: Penelitian memiliki tujuan yang jelas;
2. Exactitude: Penelitian dilakukan dengan hati-hati, cermat, dan teliti;
3. Testability: Penelitian dapat diujikan atau dikaji ulang;
4. Replicability: Penelitian dapat diulang oleh peneliti lain;
5. Precision and Confidence: Penelitian memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel;
6. Objectivity: Penelitian bersifat objektif;
7. Generalization: Penelitian berlaku secara umum;
8. Parismony: Penelitian hemat (tidak berlebihan);
9. Consistency: Data atau ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi kata atau ungkapan yang memiliki arti sama;
10. Coherency: Terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian dengan bagian lainnya dalam penelitian tersebut.
Kebenaran dari suatu penelitian didasarkan atas beberapa teori berikut:
1. Teori Korespondensi: Penelitian haris berkorespondensi dengan kenyataan
2. Teori Koherensi: Sistem-sistem ide yang koheren (sesuai)
3. Teori Pragmatis: Pemecahan yang memuaskan
4. Teori Semantik: Pernyataan-pernyataan tentang kebenaran berada dalam metabahasa dan pada pernyataan-pernyataan dalam bahasa dasar
5. Teori Performatif: Pernyataan kebenaran merupakan persetujuan yang diberikan terhadap pernyataan tertentu. Berikut adalah tingkat kebenaran:
a. Kebenaran Religi melalui keimanan
b. Kebenaran Filsafati melalui kontemplasi
c. Kebenaran Ilmiah melalui kegiatan sistematik, logis, dan etis (penelitian)
d. Kebenaran Indrawi melalui penginderaan
Berikut metupakan prosedur atau langkah-langkah dalam membuat suatu penelitian :
6. Garis Besar
a. Pembuatan rancangan (penyusunan proposal penelitian);
b. Pelaksanaan Penelitian;
c. Pembuatan Laporan Penelitian.
7. Arus kegiatan penelitian
a. Memilih masalah; memerlukan kepekaan peneliti dalam mencari, menemukan, dan mengangkat suatu permasalahan.
b. Studi pendahuluan; melakukan studi eksploratoris untuk mencari informasi selengkap-lengkapnya mengenai masalah yang akan diteliti.
c. Merumuskan masalah; peneliti merumuskan secara jelas, dari mana harus memulai, kemana harus pergi, bagaimana penelitian tersebut dikembangkan, dan sebagainya
d. Merumuskan anggapan dasar; peneliti merumuskan hipotesis penelitian sebagai tempat berpijak ketika penelitian tersebut berlangsung.
e. Memilih pendekatan; peneliti memilih metode atau cara penelitian yang seperti apa yang akan digunakan. Peneliti juga menentukan apa variabelnya, apa objek penelitiannya, apa subjeknya, dari mana sumber data penelitiannya, dan lain sebagainya.
f. Menentukan variabel dan sumber data; peneliti menentukan apa yang akan diteliti dan dari mana data akan diperoleh.
g. Menentukan dan menyusun instrumen; peneliti menentukan apa jenis datanya, dari mana data akan diperoleh, dan instrumen apa yang digunakan dalam memperoleh data penelitian.
h. Mengumpulkan data; setelah peneliti menentukan dari mana data, maka peneliti memikirkan pula dengan cara apa data dikumpulkan.
i. Analisis data; dibutuhkan ketekunan dan pengertian peneliti terhadap data yang telah diperoleh. Seperti apakah jenis datanya dan peneliti pun menentukan bagaimana teknik analisisnya.
j. Menarik kesimpulan; peneliti harus jujur terhadap hasil penelitiannya dan menyimpulkan berdasarkan data-data yang telah ia peroleh, apakah hipotesis yang ia tarik sebelumnya terbukti.
k. Menyusun laporan; Peneliti dengan kemampuan berbahasanya yang baik dan benar, menyusun laporan hasil penelitiannya agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Berdasarkan Keilmiahannya Penelitian terbagi atas:
1. Penelitian Ilmiah: Penelitian yang menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Terdapat dua kriteria dalam menentukan kualitas keilmiahan suatu penelitian, yaitu:
a. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:
b. Kemampuan untuk meramalkan: sejauh mana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;
Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah :
a) Purposiveness: fokus tujuan yang jelas;
b) Rigor: teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
c) Testibility: prosedur pengujian hipotesis jelas
d) Replicability: Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
e) Objectivity: Berdasarkan fakta dari data aktual (tidak subjektif dan emosional);
f) Generalizability: Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
g) Precision: Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
h) Parsimony: Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
2. Penelitian non ilmiah: Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah.
Berikut adalah pembagian penelitian berdasarkan kriteria-kriteria tertentu:
A. Penelitian Ditinjau dari Tujuan
Ditinjau dari tujuan dilakukannya penelitian, maka penelitian dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Penelitian Eksploratif
Penelitian Eksploratif bertujuan untuk menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.
2. Penelitian Pengembangan (Research and Development)
Penelitian pengembangan (Research and Development) bertujuan untuk mengadakan percobaan dan penyempurnaan.
3. Penelitian Verifikatif
Penelitian verifikatif bertujuan untuk mengecek kebenaran dari hasil penelitian lain yang telah dilakukan (telah ada sebelumnya)
4. Penelitian Kebijakan
Penelitian kebijakan bertujuan untuk melihat sejauh mana keefektifan strategi yang akan diterapkan pemerintah pada masyarakat secara luas. Penelitian ini menyangkut tindakan dari pemerintah dan diberlakukan secara luas pada masyarakat.
B. Penelitian Ditinjau dari Pendekatan
Berdasarkan pendekatannya, penelitian dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Penelitian Longitudinal (Pendekatan Bujur)
Penelitian dilakukan pada waktu, subjek, dan kondisi yang sama.
2. Pendekatan Cross Sectional (Pendekatan Silang)
Peneliatian pendekatan silang tidak menggunakan subjek yang sama.
C. Penelitian Ditinjau dari Bidang Ilmu
Berkenaan dengan jenis spesialisasi dan interest, maka bidang ilmu yang diteliti banyak sekali ragamnya menurut siapa yang yang mengadakan penelitian. Ragam penelitian ditinjau dari bidang ilmunya, seperti penelitian terhadap pendidikan (lebih sempit lagi, teknologi pendidikan, pendidikan keguruan, kurikulum, manajemen pendidikan, dll), penelitian dalam bidang kedokteran (kedokteran THT, internist, kardiolog, dll), fisika, dan sebagainya.
Secara umum penelitian in dibedakan menjadi:
a. Penelitian Sosial
Secara khusus meneliti bidang sosial (pendidikan, ekonomi, hukum, dsb).
b. Penelitian Eksakta:
Secara khusus meneliti bidang eksakta atau ilmu pasti (kimia, fisika, keteknikan, dsb)
D. Penelitian Ditinjau dari Tempatnya
Berdasarkan tempat diadakannya penelitian, maka penelitian sendiri dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Penelitian Laboratorium
Penelitian laboratorium (laboratory research) dilaksanakan di tempat tertentu (laboratorium), biasanya bersifat eksperimen atau percobaan. Laboratorium dapat berfungsi sebagai pengisolasi variabel yang akan dieksperimen dengan lingkungan sekitar yang berpotensi mempengaruhi/mencemari variabel yang akan diteliti.
2. Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan (library research) dilaksanakan dengan menggunajan literatur (kepustakaan) dari penelitian-penelitian yang sudah diksanakan sebelumnya. Selain itu penelitian juga dapat berupa analisis isi buku (content analysys) yang akan menghasilkan suatu kesimpulan mengenai gaya bahasa buku, kecenderungan isi buku, tata tulis, layout, ilustrasi, dsb.
3. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan/kancah (field research) merupakan salah satu jenis penelitian yang paling banyak dilakukan yang berlokasi langsung di lapangan. Sesuai dengan bidangnya, maka kancah penelitian akan berbeda-beda tempatnya sesuai dengan kebutuhan.
E. Penelitian Ditinjau dari Hadirnya Variabel
Variabel adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap dalam suatu kegiatan penelitian (points to be noticed), yang menunjukkan variasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Variabel juga disebut dengan istilah ubahan, karena dapat berubah-ubah tergantung pada penelitian yang dilakukan, singkatnya bervariasi.
Berdasarkan saat terjadinya, maka penelitian yang ditinjau dari hadirnya variabel dapat dibagi menjadi:
1. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif menggambarkan atau menjelaskan variabel masa lalu dan sekarang (present continuesly)
2. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang atau belum terjadi dan sengaja diadakan dalam bentuk treatment.
3. Penetian Tindakan
F. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
1. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif hasil penelitiannya berupa deskripsi, kata, skema, dan gambar.
2. Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif hasil penelitiannya berupa angka atau data kualitatis
No. Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
1. Kejelasan Unsur :
Tujuan, pendekatan, subjek, sampel, dan sumber data sudah mantap, rinci sejak awal
Subjek sampel, sumber data tidak mantap dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan (emergent)
2. Langkah penelitian :
Segala sesuatu direncanakan sampai matang ketika persiapan disusun
Baru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai
3 Sampel :
Dapat menggunakan sampel, dan hasil penelitiannya diberlakukan untuk populasi
Tidak dapat menggunakan pendekatan populasi dan sampel. Dengan kata lain, dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting. Hasil penelitiannya hanya berlaku bagi setting yang bersangkutan
4. Hipotesis (Jika memang perlu)
a. Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;
b. Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan--- a priori
Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung--- tentatif
Hasil penelitian terbuka
5. Disain :
Dalam disain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan
Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya
6. Pengumpulan data :
Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan
Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.
7. Analisis data :
Dilakukan sesudah semua data terkumpul.
Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data
G. Penelitian Berdasarkan Metode
Metode penelitian adalah suatu cara yang dipakai dalam penelitian atau dalam kata lain prosedur yang digunakan untuk meneliti sesuatu.
1. Penelitian Survey
Penelitian survey digunakan untuk mengambil generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam
Fungsi dan ciri penelitian survey:
a. Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada,
b. Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
c. Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
d. Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
e. Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
f. Penelitian ini dapat berupa:
i. Penelitian Eksploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas.
ii. Penelitian Deskriptif: Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti mengembangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
iii. Penelitian Evaluasi: mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup evaluasi formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), dan evaluasi sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
iv. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan): menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
v. Penelitian Prediksi: Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
vi. Penelitian Pengembangan Sosial: Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala
2. Grounded Research: Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan. Grounded research bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori, dan pengumpulan serta analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri dari penelitian ini adalah data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis sehingga teori akan menerangkan data setelah data diurai.
3. Studi Kasus (Case Study): Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian/segmen, atau keseluruhan siklus /aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
4. Penelitian Eksperimen (Experimental Research): Penelitian eksperimen dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu, untuk pengujian hipotesis tertentu. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab-akibat dari variabel penelitian. Konsep dan variabel dalam penelitian jenis ini harus jelas, pengukurannya pun harus cermat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.
5. Expost Facto; dilakukan untuk meneliti peristiwa yang terjadi dan mencari tahu penyebabnya.
6. Policy Research; dilakukan untuk membuat keputusan terhadap masalah sosial yang mendasar.
7. Action Research; Penelitian untuk mengembangkan metode kerja yang efisien agar produksi meningkat
8. Penelitian Sejarah (Historis); digunakan untuk merekonstruksi kejadian masa lalu secara sistematis dan objektif.
Penelitian Gambar Diam
Definisi dan Latar Belakang
Visual adalah apapun yang dilihat melalui mata. Gambar diam adalah salah satu tipe dari visual; lebih spesifik lagi, gambar diam adalah gambar tangan, lukisan, potret, atau foto (Funk & Wagnall, 1968). Tujuan utama penggunaannya dalam pendidikan adalah untuk berkomunikasi. Detailnya, gambar diam digunakan untuk menyediakan informasi, dan seringnya untuk memperkuat informasi verbal. Suatu gambar tersusun dari elemen-elemen desain; diantaranya, garis, bentuk, tekstur, ruang, dan warna.
Berdasarkan teori komunikasi, terdapat beberapa prinsip dalam meletakkan elemen desain, diantaranya:
1.Keseimbangan; yaitu berat elemen desain dalam satu halaman.
a.Keseimbangan simetris; kedua sisi halaman terdiri dari jumlah dan ukuran elemen
yang sama
b.Keseimbangan asimetris; elemen-elemen di kedua sisi tidak sama.
Elemen-elemen tersebut dalam satu halaman harus disusun sedemikian rupa untuk
menciptakan kesetimbangan.
2.Persatuan; yaitu menciptakan hubungan antara seluruh elemen dalam suatu visual,
sehingga terlihat berfungsi secara bersamaan
3.Tekanan; konsep terpenting dalam berkomunikasi, yaitu menempatkan elemen-elemen
desain tersebut ditempat dimana ia akan terlihat sebagai pusat ketertarikan dan
perhatian.
Ilustrasi dapat didefinisikan sebagai gambar, diagram, atau peta yang digunakan untuk menjelaskan suatu ide atau konsep. Ilustrasi visual dapat menampilkan level yang berbeda dari kenyataan. Oleh karenanya, gambar diam dapat didefinisikan melalui tingkat realitas yang ditampilkan.
Ilustrasi Visual: Abstrak Vs Realistik
Berikut adalah beberapa contoh hasil penelitian yang dilakukan untuk mengukur efek ingatan dari gambar dan gambar yang disertai informasi verbal.
1.Cody (1982) melakukan penelitian berupa tes untuk mengetahui efek dari materi
dengan format simbolis terhadap ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Cody
menyimpulkan bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi ingatan adalah tipe segi
yang di-encode bukan jumlah caranya di-encode. Sebagian ingatan dapat mencirikan
karakteristik dari isyarat visual yang di-encode. Dia juga menemukan bahwa foto
secara langsung menilai informasi semantik. Detail tambahan, seperti warna dan
tingkat realisme yang tinggi sesungguhnya tidak begitu penting dalam ingatan.
2.Dwyer (1968), dalam suatu penelitian tentang hubungan antara realitas dan belajar,
memvariasikan jumlah dari detail realistis dalam ilustrasi yang didesain untuk
pembelajaran berprogram. Diasumsikan sebelumnya, bahwa siswa akan berinteraksi
dengan ilustrasi dan interaksi tersebut akan memfasilitasi belajar.
Kemudian Dwyer menemukan bahwa siswa tidak mengetahui bagaimana belajar dari
gambar dan foto-foto; rangkaian ilustrasi visual yang menyampaikan gambaran
abstrak hingga realistis, bukanlah indikator belajar yang lebih baik..
Ia juga menyimpulkan bahwa untuk objek tertentu dan untuk siswa pada tingkatan
tertentu, warna menjadi variabel instruksional yang penting untuk meningkatkan
pencapaian siswa. Umumnya, warna tidaklah penting dalam belajar, kecuali jika
pelajaran tersebut melibatkan pengelan warna.
3.Joseph (1979) melakukan penelitian untuk mengujikan apakah gabungan antara gambar
abstrak dan realistis dengan teks dapat meningkatkan keefektifan pengajaran atau
segmen instruksional.
Ia menyimpulkan bahwa keefektifan dari belajar berbasis visual dapat ditambah
dengan menyertakan gambar realistis dan abstrak, tetapi harus dilandaskan pada
banyak pertimbangan, seperti kemampuan umum dari pebelajar, tujuan belajar, dan
langkah dari proses pembelajaran.
Kemudian Joseph dan Dwyer menarik kesimpulan yang serupa bahwa menyatukan gambar
realistis dan visual akan mengurangi pencapaian yang berbeda antara siswa dengan
kemampuan yang berbeda.
4.Wise (1982) dan beberapa peneliti lain yang meneliti belajar dan tingkat realitas
gambar diam menyimpulkan bahwa gambar garis sederhana lebih baik dibandingkan foto
dalam memfasilitasi interpretasi dari stimuli. Selain itu, elemen lain
mempertinggi tingkat realitas, seperti warna, tidak secara signifikan memperkaya
belajar kecuali jika tujuan belajar membutuhkan elemen-elemen tersebut untuk
dipelajari.
Gambar Diam Dibandingkan Dengan Bentuk Media Lain
Beberapa penelitian telah melaporkan pengujian keefektifan media gambar diam dibandingkan dengan bentuk media lain. Kesemua pengujian ini diadakan dalam berbagai kondisi belajar dan tujuan pembelajaran.
1.Wilkinson (1980) menyebutkan penelitian Kelly pada tahun 1961 yang menguji
penggunaan filmstrip untuk mengajarkan membaca. Ia membandingkan dua kelompok,
yaitu kelompok eksperimental yang belajar dengan menggunakan filmstrip dan
kelompok terkontrol yang belajar dengan menggunakan metode tradisional. Dari
pengujian ini, Kelly menemukan bahwa ketika diuji dengan tes membaca, kelompok
eksperimental tidak lebih baik dalam pengenalan kata dan membaca kalimat daripada
kelompok yang terkontrol.
2.Chance (1960) membandingkan penggunaan transparansi yang digabungkan dengan dosen
dan format pelajaran yang berbentuk diskusi dikelas geometri dengan yang hanya
menggunakan dosen dan format diskusi saja. Ia menemukan kelompok yang menggunakan
transparansi tidak lebih baik dalam ujian akhir daripada kelompok yang menggunakan
dosen dan format diskusi. Chance juga menemukan bahwa penggunaan transparansi
hanya menghemat waktu selama 15 menit dalam setiap pelajaran.
3.Pada tahun 1960an sebuah pendekatan baru mempengaruhi perkembangan dari belajar
mandiri. Para peneliti berusaha keras untuk menemukan metodeuntuk mengembangkan
bahan ajar yang fleksibel dan dapat disajikan dengan berbagai macam cara. Para
peneliti berpendapat bahwa perlu ditemukannya sebuah media yang paling efektif
untuk menyampaikan konsep yang spesifik dalam kondisi apapun (Lumsdaine, 1962).
4.Selanjutnya Wells dan lainnya (1973) melakukan penelitian untuk menguji pengaruh
dari berbagai media visual dalam mengajarkan konsep visual yang berbeda-beda.
Wells menemukan bahwa gambar bergerak atau film lebih baik daripada foto yang
berkelanjutan dan slide dalam menyampaikan konsep waktu. Ia menyimpulkan bahwa
konsep visual dari waktu dapat disampaikan dengan baik oleh media yang
memperbolehkan penonton untuk merasakan presentasi yang berkelanjutan. Hasil
penelitian juga menyimpulkan bahwa film lebih efektif untuk menyampaikan konsep
yang mengandung gerakan. Slide lebih baik dalam menyampaikan gerakan daripada
gambar diam. Terkahir, penelitian ini juga mengindikasikan bahwa foto
berkelanjutan dan slide terlihat lebih efektif daripada film dalam menyampaikan
konsep yang mengandung ruang.
5.Pada tahun 1966, Otto melakukan studi tindak lanjut untuk menguji perbedaan respon
siswa terhadap informasi yang disampaikan dengan menggunakan gambar hitam putih
dan gambaran verbal dari gambar. Otto menemukan bahwa penyampaian kembali secara
verbal lebih menimbulkan respon sensoris daripada yang gambar hitam putih lakukan
pada informasi yang sama.
Visual adalah apapun yang dilihat melalui mata. Gambar diam adalah salah satu tipe dari visual; lebih spesifik lagi, gambar diam adalah gambar tangan, lukisan, potret, atau foto (Funk & Wagnall, 1968). Tujuan utama penggunaannya dalam pendidikan adalah untuk berkomunikasi. Detailnya, gambar diam digunakan untuk menyediakan informasi, dan seringnya untuk memperkuat informasi verbal. Suatu gambar tersusun dari elemen-elemen desain; diantaranya, garis, bentuk, tekstur, ruang, dan warna.
Berdasarkan teori komunikasi, terdapat beberapa prinsip dalam meletakkan elemen desain, diantaranya:
1.Keseimbangan; yaitu berat elemen desain dalam satu halaman.
a.Keseimbangan simetris; kedua sisi halaman terdiri dari jumlah dan ukuran elemen
yang sama
b.Keseimbangan asimetris; elemen-elemen di kedua sisi tidak sama.
Elemen-elemen tersebut dalam satu halaman harus disusun sedemikian rupa untuk
menciptakan kesetimbangan.
2.Persatuan; yaitu menciptakan hubungan antara seluruh elemen dalam suatu visual,
sehingga terlihat berfungsi secara bersamaan
3.Tekanan; konsep terpenting dalam berkomunikasi, yaitu menempatkan elemen-elemen
desain tersebut ditempat dimana ia akan terlihat sebagai pusat ketertarikan dan
perhatian.
Ilustrasi dapat didefinisikan sebagai gambar, diagram, atau peta yang digunakan untuk menjelaskan suatu ide atau konsep. Ilustrasi visual dapat menampilkan level yang berbeda dari kenyataan. Oleh karenanya, gambar diam dapat didefinisikan melalui tingkat realitas yang ditampilkan.
Ilustrasi Visual: Abstrak Vs Realistik
Berikut adalah beberapa contoh hasil penelitian yang dilakukan untuk mengukur efek ingatan dari gambar dan gambar yang disertai informasi verbal.
1.Cody (1982) melakukan penelitian berupa tes untuk mengetahui efek dari materi
dengan format simbolis terhadap ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Cody
menyimpulkan bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi ingatan adalah tipe segi
yang di-encode bukan jumlah caranya di-encode. Sebagian ingatan dapat mencirikan
karakteristik dari isyarat visual yang di-encode. Dia juga menemukan bahwa foto
secara langsung menilai informasi semantik. Detail tambahan, seperti warna dan
tingkat realisme yang tinggi sesungguhnya tidak begitu penting dalam ingatan.
2.Dwyer (1968), dalam suatu penelitian tentang hubungan antara realitas dan belajar,
memvariasikan jumlah dari detail realistis dalam ilustrasi yang didesain untuk
pembelajaran berprogram. Diasumsikan sebelumnya, bahwa siswa akan berinteraksi
dengan ilustrasi dan interaksi tersebut akan memfasilitasi belajar.
Kemudian Dwyer menemukan bahwa siswa tidak mengetahui bagaimana belajar dari
gambar dan foto-foto; rangkaian ilustrasi visual yang menyampaikan gambaran
abstrak hingga realistis, bukanlah indikator belajar yang lebih baik..
Ia juga menyimpulkan bahwa untuk objek tertentu dan untuk siswa pada tingkatan
tertentu, warna menjadi variabel instruksional yang penting untuk meningkatkan
pencapaian siswa. Umumnya, warna tidaklah penting dalam belajar, kecuali jika
pelajaran tersebut melibatkan pengelan warna.
3.Joseph (1979) melakukan penelitian untuk mengujikan apakah gabungan antara gambar
abstrak dan realistis dengan teks dapat meningkatkan keefektifan pengajaran atau
segmen instruksional.
Ia menyimpulkan bahwa keefektifan dari belajar berbasis visual dapat ditambah
dengan menyertakan gambar realistis dan abstrak, tetapi harus dilandaskan pada
banyak pertimbangan, seperti kemampuan umum dari pebelajar, tujuan belajar, dan
langkah dari proses pembelajaran.
Kemudian Joseph dan Dwyer menarik kesimpulan yang serupa bahwa menyatukan gambar
realistis dan visual akan mengurangi pencapaian yang berbeda antara siswa dengan
kemampuan yang berbeda.
4.Wise (1982) dan beberapa peneliti lain yang meneliti belajar dan tingkat realitas
gambar diam menyimpulkan bahwa gambar garis sederhana lebih baik dibandingkan foto
dalam memfasilitasi interpretasi dari stimuli. Selain itu, elemen lain
mempertinggi tingkat realitas, seperti warna, tidak secara signifikan memperkaya
belajar kecuali jika tujuan belajar membutuhkan elemen-elemen tersebut untuk
dipelajari.
Gambar Diam Dibandingkan Dengan Bentuk Media Lain
Beberapa penelitian telah melaporkan pengujian keefektifan media gambar diam dibandingkan dengan bentuk media lain. Kesemua pengujian ini diadakan dalam berbagai kondisi belajar dan tujuan pembelajaran.
1.Wilkinson (1980) menyebutkan penelitian Kelly pada tahun 1961 yang menguji
penggunaan filmstrip untuk mengajarkan membaca. Ia membandingkan dua kelompok,
yaitu kelompok eksperimental yang belajar dengan menggunakan filmstrip dan
kelompok terkontrol yang belajar dengan menggunakan metode tradisional. Dari
pengujian ini, Kelly menemukan bahwa ketika diuji dengan tes membaca, kelompok
eksperimental tidak lebih baik dalam pengenalan kata dan membaca kalimat daripada
kelompok yang terkontrol.
2.Chance (1960) membandingkan penggunaan transparansi yang digabungkan dengan dosen
dan format pelajaran yang berbentuk diskusi dikelas geometri dengan yang hanya
menggunakan dosen dan format diskusi saja. Ia menemukan kelompok yang menggunakan
transparansi tidak lebih baik dalam ujian akhir daripada kelompok yang menggunakan
dosen dan format diskusi. Chance juga menemukan bahwa penggunaan transparansi
hanya menghemat waktu selama 15 menit dalam setiap pelajaran.
3.Pada tahun 1960an sebuah pendekatan baru mempengaruhi perkembangan dari belajar
mandiri. Para peneliti berusaha keras untuk menemukan metodeuntuk mengembangkan
bahan ajar yang fleksibel dan dapat disajikan dengan berbagai macam cara. Para
peneliti berpendapat bahwa perlu ditemukannya sebuah media yang paling efektif
untuk menyampaikan konsep yang spesifik dalam kondisi apapun (Lumsdaine, 1962).
4.Selanjutnya Wells dan lainnya (1973) melakukan penelitian untuk menguji pengaruh
dari berbagai media visual dalam mengajarkan konsep visual yang berbeda-beda.
Wells menemukan bahwa gambar bergerak atau film lebih baik daripada foto yang
berkelanjutan dan slide dalam menyampaikan konsep waktu. Ia menyimpulkan bahwa
konsep visual dari waktu dapat disampaikan dengan baik oleh media yang
memperbolehkan penonton untuk merasakan presentasi yang berkelanjutan. Hasil
penelitian juga menyimpulkan bahwa film lebih efektif untuk menyampaikan konsep
yang mengandung gerakan. Slide lebih baik dalam menyampaikan gerakan daripada
gambar diam. Terkahir, penelitian ini juga mengindikasikan bahwa foto
berkelanjutan dan slide terlihat lebih efektif daripada film dalam menyampaikan
konsep yang mengandung ruang.
5.Pada tahun 1966, Otto melakukan studi tindak lanjut untuk menguji perbedaan respon
siswa terhadap informasi yang disampaikan dengan menggunakan gambar hitam putih
dan gambaran verbal dari gambar. Otto menemukan bahwa penyampaian kembali secara
verbal lebih menimbulkan respon sensoris daripada yang gambar hitam putih lakukan
pada informasi yang sama.
Sunday, October 22, 2006
Korelasi Organisasi Belajar dengan Pengembangan Organisasi

[Pengantar Organisasi Belajar]
Suatu organisasi dipandang perlu menerapkan gaya belajar organisasi dari organisasi belajar. Dengan penerapan sistem LO pada suatu organisasi, maka organisasi tersebut akan memiliki kecenderungan untuk selalu berkembang (perbaikan teru-menerus) karena organisasi tersebut selalu dan akan selalu belajar dan melakukan perubahan (transform).
Labels:
Learning Organization,
LO,
OB,
Organisasi Belajar,
POB
Pergeseran Paradigma dari Pelatihan ke LO
[Pengantar Organisasi Belajar]
“…Everything changes fast. We are living in a turbulence world!”
Setiap orang yang ingin berkembang (termasuk pula organisasi – sekumpulan orang) maka ia akan memiliki motivasi dan kesadaran untuk selalu belajar, dan berubah ke arah yang lebih baik.
“Learning Organizations are those that have in place systems, mechanisms and processes, that are used to continually enhance their capabilities and those who work with it or for it…”
LO menekankan pada kesinambungan sistem, mekanisme, dan proses belajar untuk menambah kemampuan yang tidak ada pada pelatihan.
Labels:
Learning Organization,
LO,
OB,
Organisasi Belajar,
POB
Filosofi LO
[Pengantar Organisasi Belajar]
Berdasarkan beberapa definisi mengenai LO, kesimpulan yang saya peroleh tentang dasar filosofis LO adalah :
“Proses belajar/peningkatan kemampuan baik individual maupun kolektif dalam visi bersama secara berkelanjutan dengan mengaitkan seluruh komponen dalam organisasi tersebut”
Labels:
Learning Organization,
LO,
OB,
Organisasi Belajar,
POB
Peter Senge and The Learning Organization
[Pengantar Organisasi Belajar]
Menurut Peter Senge (1990), LO adalah :
“... organisasi dimana sekumpulan orang secara berkelanjutan mengembangkan kapasitas mereka untuk membuat hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola pikir yang baru dan telah diperluas kemudian dipelihara, dimana aspirasi kolektif dibebaskan, dan dimana semua orang secara berkelanjutan belajar untuk melihat secara keseluruhan bersama-sama.
Bagi Peter Senge, belajar yang sesungguhnya berada dalam hati manusia. Kita menjadi dapat menyusun ulang diri kita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun organisasi. Oleh karenanya, bagi LO bertahan saja tidak cukup. “Belajar bertahan” atau yang biasa diistilahkan sebagai “belajar adaptif” harus digabungkan dengan “belajar menghasilkan”, belajar yang menambah kapasitas kita untuk mencipta. (Senge 1990).
Dimensi yang membedakan belajar dari organisasi yang lebih tradisional adalah penguasaan beberapa disiplin dasar atau “komponen teknologi”. Lima hal yang diidentifikasikan oleh Peter Senge dikatakan penyatuan untuk mencetuskan LO, yaitu:
System thinking – Pondasi dari LO. Pemikiran yang sistemik adalah pondasi konseptual dari pendekatan Senge, merupakan disiplin yang menggabungkan yang lain, meleburkan mereka ke dalam suatu tubuh yang koheren dalam teori dan praktek.
The core disciplines
Disamping pemikiran yang bersistem, terdapat komponen teknologi atau disiplin. Suatu disiplin dilihat oleh Peter Senge sebagai suatu rangkaian prinsip-prinsip dan praktek-praktek yang kita pelajari, kuasai dan integrasikan dalam kehidupan. Kelima disiplin dapat ditinjau pada salah satu dari ketiga tingkatan berikut:
Practices - apa yang dilakukan
Principles - membimbing ide dan insight.
Essences - keadaan dengan penguasaan disiplin tingkat tinggi.
Setiap disiplin menyediakan dimensi vital. Kesemuanya penting untuk yang lain jika organisasi tersebut untuk ‘belajar’.
Personal mastery. Merupakan disiplin dari ‘penjelasan dan pendalaman pandangan personal secara berkesinambungan, dari pemfokusan energi, dati pengembangan kesabaran, dan dari penglihatan realita secara objektif’. Orang-orang dengan tingkat personal mastery tinggi hidup dalam mode belajar yang berkesinambungan. Personal mastery bukanlah sesuatu yang dimiliki melainkan suatu proses, disiplin sepanjang hayat.
Mental models. Disiplin dari mental models dimulai dengan membalik cermin dalam batin; belajar untuk menggali keluar gambaran internal kita akan dunia, membawanya ke permukaan dan memegangnya dengan benar untuk pemeriksaan yang teliti. Juga menyertakan kemampuan untuk membawa pembicaraan yang ‘belajar’ yang menyeimbangkan inkuiri dan pembelaan, dimana semua orang memperlihatkan pemikiran mereka sendiri secara efektif dan membuat pemikiran tersebut terbuka untuk mempengaruhi yang lain.
Building shared vision. Praktek dari berbagi visi melibatkan kemampuan mengeluarkan serta berbagi ‘gambaran akan masa depan’ yang membentuk kesungguhan komitmen dan masukan daripada pelaksanaan. Dengan menguasai disiplin ini, pemimpin belajar ketidak produktifan dari percobaan untuk mendikte visi, sepenuh hati.
Dimana organisasi dapat melampaui linier dan memahami sistem berfikir, akan ada kemungkinan untuk membawa visi menuju hasil yang didapat.
Team learning. Belajar jenis ini dipandang sebagai suatu proses pelurusan dan pengembangan kapasitas dari suatu kelompok untuk menghasilkan apa yang benar-benar mereka inginkan. (Senge, 1990). Ketika kelompok belajar bersama, organisasi bukan hanya memperoleh hasil yang baik, anggota juga akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan tidak adanya team learning.
Disiplin dari belajar berkelompok dimulai dengan dialog, kapasitas dari anggota kelompok untuk menolak asumsi dan masuk ke dalam suatu pemikiran bersama yang sesunguhnya.
Memimpin LO
Dalam suatu LO, pemimpin adalah desainer, pelayan, dan guru. Mereka bertanggung jawab untuk membangun organisasi dimana orang-orang secara berkelanjutan mengembangkan kemampuan mereka untuk mengerti kerumitan, memperjelas visi, dan mengembangkan pembagian mental models – bahwa mereka bertanggung jawab untuk belajar... LO akan menjadi ide bagus... sampai semua orang memutuskan untuk membangun organisasi yang sama. Melakukan hal ini merupakan yang pertama dalam kepemimpinan, permulaan dari kebangkitan visi LO.
Pemimpin sebagai desainer. Intinya, tugas pemimpin adalah mendesain proses belajar dimana semua orang dalam organisasi dapat secara produktif sejalan dengan isu kritis yang mereka hadapi, dan mengembangkan penguasaan mereka dalam disiplin belajar.
Pemimppin sebagai pelayan. Pemimpin adalah pelayan dari visi, tugas mereka adalah untuk mengaturnya bagi keuntungan yang lain.
Pemimpin sebagai guru. Kunci kesuksesan adalah kemampuan untuk mengkonsepkan insight sehingga dapat menjadi pengetahuan bagi umum, ‘terbuka untuk tantangan dan pengembangan yang lebih jauh’.
Pemimpin sebagai guru bukanlah tentang membelajarkan orang lain untuk mencapai visi mereka. Namun lebih ke arah pengadopsian belajar bagi semua orang.
Pemimpin harus menghasilkan dan mengatur tekanan kreatif - khususnya yang berkaitan dengan kesenjangan visi dan realita. Hal tersebut memungkinkan pemimpin untuk melihat kenyataan dalam situasi yang berubah.
Conclusion
LO adalah organisasi dimana potensi anggota diperhatikan dan berkesempatan untuk berkembang sehingga tujuan bersama dapat dicapai dengan pola kepemimpinan yang efektif.
Labels:
Learning Organization,
LO,
OB,
Organisasi Belajar,
POB
The Learning Organization – Myths and Realities (Sandra Kerka, 1995)
[Pengantar Organisasi Belajar]
Disetujui bahwa LO dimulai dengan asumsi bahwa belajar itu berharga, berkesinambungan, dan lebih efektif ketika dibagi dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar. LO memiliki karekteristik sebagi berikut (Calvert, dkk. 1994; Watkins and Marsick 1993):
1. Menyediakan kesempatan belajar yang berkesinambungan.
2. Menggunakan belajar untuk mencapai tujuan-tujuan mereka.
3. Menguhubungkan kinerja individual dengan kinerja organisasi.
4. Mengadopsi inkuiri dan dialog, membuatnya aman untuk setiap orang untuk berbagi secara terbuka dan mengambil resiko.
5. Mencakup tekanan yang kreatif sebagai suatu sumber energi dan pembaharuan.
6. Secara berkesinambungan sadar dan berinteraksi dengan lingkunan mereka (LO).
Lima disiplin Senge merupakan kunci untuk mencapai tipe organisasi yang demikian; yaitu: personal mastery, mental models, shared vision, team learning, dan system thinking. Dimana menurut Senge, sistem thinking adalah yang terpenting.
Tidak ada organisasi belajar tanpa belajar individu, namun belajar individu harus dibagikan dan digunakan oleh organisasi. (P. West 1994).
Salah satu penghalang untuk menghasilkan organisasi belajar yang sukses adalah kurangnya pemimpin yang efektif. LO membutuhkan pemikiran kembali yang esensial tentang kememimpinan. Pemimpin menjadi desainer, guru, dan pelayan bagi visi bersama. Kepemimpinan dalam LO adalah kemampuan untuk melatih dan membelajarkan; bukan eksklusif, berkuasa, atau menggunakan, melainkan belajar dan menghasilkan.
Conclusion
LO berkaitan erat dengan sistem kepemimpinan. Masyarakat dalam LO adalah masyarakat yang menghargai dan bersedia untuk selalu belajar. LO yang sukes dicerminkan melalui pemimpin yang efektif dalam memimpin dan anggota organisasi yang produktif untuk selalu belajar.
Disetujui bahwa LO dimulai dengan asumsi bahwa belajar itu berharga, berkesinambungan, dan lebih efektif ketika dibagi dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar. LO memiliki karekteristik sebagi berikut (Calvert, dkk. 1994; Watkins and Marsick 1993):
1. Menyediakan kesempatan belajar yang berkesinambungan.
2. Menggunakan belajar untuk mencapai tujuan-tujuan mereka.
3. Menguhubungkan kinerja individual dengan kinerja organisasi.
4. Mengadopsi inkuiri dan dialog, membuatnya aman untuk setiap orang untuk berbagi secara terbuka dan mengambil resiko.
5. Mencakup tekanan yang kreatif sebagai suatu sumber energi dan pembaharuan.
6. Secara berkesinambungan sadar dan berinteraksi dengan lingkunan mereka (LO).
Lima disiplin Senge merupakan kunci untuk mencapai tipe organisasi yang demikian; yaitu: personal mastery, mental models, shared vision, team learning, dan system thinking. Dimana menurut Senge, sistem thinking adalah yang terpenting.
Tidak ada organisasi belajar tanpa belajar individu, namun belajar individu harus dibagikan dan digunakan oleh organisasi. (P. West 1994).
Salah satu penghalang untuk menghasilkan organisasi belajar yang sukses adalah kurangnya pemimpin yang efektif. LO membutuhkan pemikiran kembali yang esensial tentang kememimpinan. Pemimpin menjadi desainer, guru, dan pelayan bagi visi bersama. Kepemimpinan dalam LO adalah kemampuan untuk melatih dan membelajarkan; bukan eksklusif, berkuasa, atau menggunakan, melainkan belajar dan menghasilkan.
Conclusion
LO berkaitan erat dengan sistem kepemimpinan. Masyarakat dalam LO adalah masyarakat yang menghargai dan bersedia untuk selalu belajar. LO yang sukes dicerminkan melalui pemimpin yang efektif dalam memimpin dan anggota organisasi yang produktif untuk selalu belajar.
Labels:
Learning Organization,
LO,
OB,
Organisasi Belajar,
POB
The Learning Organization
[Pengantar Organisasi Belajar]
LO adalah suatu ideal, dimana organisasi harus berkembang dengan harapan dapat merespon berbagai macam tantangan yang mereka hadapi yang dicirikan dengan suatu pengenalan bahwa belajar individual dan kolektif adalah kunci.
Dapat dikatakan bahwa organisasi yang belajar adalah suatu aktivitas dan proses dengan apa organisasi akhirnya mencapai ideal dari LO.
Dengan kata lain, kita harus mahir belajar, harus mampu tidak hanya mengubah institusi, dalam tanggapan untuk mengubah situasi dan persyaratan; kita garus menemukan dan mengembangkan institusi yang merupakan “sistem belajar”, dimana sistem dapat membawa perubahan berkelanjutan mereka sendiri.
Seperti yang dikatakan Leadbeater, perusahaan semestinya menginvestasikan bukan hanya pada peralatan baru untuk mendukung efisiensi proses produksi, namun dalam aliran akan “tahu-bagaimana” yang akan mempertahankan bisnis mereka. Organisasi hendaknya baik dalam generasi pengetahuan, kecocokan, dan pemanfaatan.
Definisi LO
LO adalah organisasi dimana semua orang secara berkelanjutan mengembangkan kapasitas mereka untuk menghasilkan apa yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola pemikiran yang baru dan telah diperluas kemudian dipelihara, dan dimana semua orang secara berkelanjutan belajar untuk melihat secara menyeluruh. [Senge, 1990]
Perusahaan belajar adalah suatu visi akan apa yang mungkin. Bukan hanya dengan melatih individual; hanya dapat terjadi sebagai hasil dari belajar pada seluruh tingkat organisasi. Perusahaan belajar adalah suatu organisasi yang memfasilitasi proses belajar seluruh anggotanya dan secara berkelanjutan mengubah dirinya. [Pedler, et al. 1991]
LO dicirikan dengan total pegawai yang terlibat dalam proses dimana dikelola secara kolaboratif, secara kolektif bertanggung jawab atas nilai-nilai bersama atau prinsip. [Watkins and Marsick. 1992]
Menurut Sandra Kerka (1995) yang paling konseptual dari LO adalah asumsi bahwa ‘belajar itu penting, berkelanjutan, dan lebih efektif ketika dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar.
Kerka menyatakan, lima disiplin yang diidentifikasikan Peter Senge adalah kunci untuk mencapai organisasi jenis ini.
Peter Senge juga menekankan pentingnya dialog dalam organisasi, khususnya dengan memperhatikan pada disiplin belajar tim (team learning). Maka dialog merupakan salah satu ciri dari setiap pembicaraan sesungguhnya dimana setiap orang membuka dirinya terhadap yang lain, benar-benar menerima sudut pandangnya sebagai pertimbangan berharga dan memasuki yang lain dalam batasan bahwa dia mengerti tidak sebagai individu secara khusus, namun isi pembicaraannya. Tujuannya bukan memenangkan argumen melainkan untuk pengertian lebih lanjut.
Belajar tim (team learning) memerlukan kapasitas anggota kelompok untuk mencabut asumsi dan mesu ke dalam pola “berfikir bersama” yang sesungguhnya. [Senge. 1990]
Konsep dari LO :
1. Berfokus utama pada dimensi kultral
2. Membantu proses belajar individual dan kolektif
3. Agak sedikit tidak jelas. Fungsi sesungguhnya dari LO harus didefinisikan lebih jelas lagi.
Conclusion
LO menekankan pada pentingnya belajar, khususnya belajar tim, dan membentuk pola pikir the whole together. LO selalu berubah (berkembang).
LO adalah suatu ideal, dimana organisasi harus berkembang dengan harapan dapat merespon berbagai macam tantangan yang mereka hadapi yang dicirikan dengan suatu pengenalan bahwa belajar individual dan kolektif adalah kunci.
Dapat dikatakan bahwa organisasi yang belajar adalah suatu aktivitas dan proses dengan apa organisasi akhirnya mencapai ideal dari LO.
Dengan kata lain, kita harus mahir belajar, harus mampu tidak hanya mengubah institusi, dalam tanggapan untuk mengubah situasi dan persyaratan; kita garus menemukan dan mengembangkan institusi yang merupakan “sistem belajar”, dimana sistem dapat membawa perubahan berkelanjutan mereka sendiri.
Seperti yang dikatakan Leadbeater, perusahaan semestinya menginvestasikan bukan hanya pada peralatan baru untuk mendukung efisiensi proses produksi, namun dalam aliran akan “tahu-bagaimana” yang akan mempertahankan bisnis mereka. Organisasi hendaknya baik dalam generasi pengetahuan, kecocokan, dan pemanfaatan.
Definisi LO
LO adalah organisasi dimana semua orang secara berkelanjutan mengembangkan kapasitas mereka untuk menghasilkan apa yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola pemikiran yang baru dan telah diperluas kemudian dipelihara, dan dimana semua orang secara berkelanjutan belajar untuk melihat secara menyeluruh. [Senge, 1990]
Perusahaan belajar adalah suatu visi akan apa yang mungkin. Bukan hanya dengan melatih individual; hanya dapat terjadi sebagai hasil dari belajar pada seluruh tingkat organisasi. Perusahaan belajar adalah suatu organisasi yang memfasilitasi proses belajar seluruh anggotanya dan secara berkelanjutan mengubah dirinya. [Pedler, et al. 1991]
LO dicirikan dengan total pegawai yang terlibat dalam proses dimana dikelola secara kolaboratif, secara kolektif bertanggung jawab atas nilai-nilai bersama atau prinsip. [Watkins and Marsick. 1992]
Menurut Sandra Kerka (1995) yang paling konseptual dari LO adalah asumsi bahwa ‘belajar itu penting, berkelanjutan, dan lebih efektif ketika dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar.
Kerka menyatakan, lima disiplin yang diidentifikasikan Peter Senge adalah kunci untuk mencapai organisasi jenis ini.
Peter Senge juga menekankan pentingnya dialog dalam organisasi, khususnya dengan memperhatikan pada disiplin belajar tim (team learning). Maka dialog merupakan salah satu ciri dari setiap pembicaraan sesungguhnya dimana setiap orang membuka dirinya terhadap yang lain, benar-benar menerima sudut pandangnya sebagai pertimbangan berharga dan memasuki yang lain dalam batasan bahwa dia mengerti tidak sebagai individu secara khusus, namun isi pembicaraannya. Tujuannya bukan memenangkan argumen melainkan untuk pengertian lebih lanjut.
Belajar tim (team learning) memerlukan kapasitas anggota kelompok untuk mencabut asumsi dan mesu ke dalam pola “berfikir bersama” yang sesungguhnya. [Senge. 1990]
Konsep dari LO :
1. Berfokus utama pada dimensi kultral
2. Membantu proses belajar individual dan kolektif
3. Agak sedikit tidak jelas. Fungsi sesungguhnya dari LO harus didefinisikan lebih jelas lagi.
Conclusion
LO menekankan pada pentingnya belajar, khususnya belajar tim, dan membentuk pola pikir the whole together. LO selalu berubah (berkembang).
Labels:
Learning Organization,
LO,
OB,
Organisasi Belajar,
POB
Subscribe to:
Posts (Atom)